Wednesday, 27 January 2016

Cerita Lama

Cerita Lama

Keheningan malam menampakkan cerita
Seperti menjelma kala kita tertawa
Didasar hati penuh tanya
Tentang waktu yang terlupa

            Sesal masih terasa
            Diam memendam sebuah kata
            Kian jauh dimata
            Hanya menyisakan cerita lama

Hampa ini mendiami hati
Usang datang meliputi
Angan yang dulu menghiasi kini kian hilang
Kala kuingin senyummu hanya mampu ku kenang

Jemari menari masih memainkan pena
Merangkai kata atas dasar sebuah nama
Rintik hujan pun tiba
Seakan mengajakku melupakan permata
 

                                                                by: Indra

                

Peribahasa dari kata “Ada”

Ada air, adalah ikan. 
Ada negeri tentulah ada rakyatnya.
Ada aku dipandang hadap, tiada aku dipandang belakang. 
Kasih sayang hanya waktu berhadapan saja, setelah berjauhan lalu dilupakan.
Ada angin, ada pokoknya (= pohonnya). 
Segala sesuatu mestilah ada asal mulanya.
Ada asap ada api 
Beberapa hal di dunia ini amat sulit atau bahkan mustahil disembunyikan.
Ada bangkai, adalah hering. 
Ada perempuan jahat, adalah lelaki jahat yang mengunjunginya.
Ada batang mati, adalah cendawan tumbuh. 
Di mana juga kita tinggal, akan ada rezeki kita.
Ada batang, cendawan tumbuh. 
Tiap-tiap negeri ada undang-undang dan adat resamnya masing-masing.
Ada beras, taruh dalam padi. 
Rahasia hendaklah disimpan baik-baik.
Ada biduk, serempu pula. 
Tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Ada bukit, ada paya. 
Ada baik, ada jahat; ada miskin, ada kaya.
Ada bunga, ada lebah 
Orang yang kaya akan digerogoti oleh teman-temannya.
Ada gula, ada semut. 
Di tempat orang mudah mendapat rezeki, banyaklah orang berkumpul.
Ada hari, ada nasi. 
Asal masih hidup, tentu akan beroleh rezeki.
Ada hujan ada panas, ada hari boleh balas. 
Perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.
Ada jarum hendaklah ada benangnya. 
Tiap-tiap suatu itu ada pasangannya.
Ada kerak, ada nasi. 
Tiap-tiap suatu kejadian itu tentu ada bekasnya.
Ada laut, ada perampok. 
Tiap-tiap suatu itu ada pasangannya.
Ada nasi di balik kerak. 
Masih ada sesuatu yang belum diselesaikan atau belum diperhatikan.
Ada nyawa ada rezeki. 
Asal masih hidup, tentu akan beroleh rezeki.
Ada padang, ada belalang 
Ada negeri tentulah ada rakyatnya.
Ada padi masak, adalah pipit. 
Di tempat orang mudah mendapat rezeki, banyaklah orang berkumpul.
Ada padi semua kerja jadi, ada beras semua kerja deras. 
Orang yang mampu (= kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.
Ada padi, segala menjadi. 
Orang yang mampu (= kaya, berilmu) segala maksudnya mudah tercapai.
Ada paha ada kaki, ada nyawa ada rezeki. 
Setiap orang mempunyai rezeki dan jodohnya sendiri.
Ada pasang surutnya. 
Untung dan malang tidak tetap.
Ada persembahan ada kurnia. 
Berbuat baik dibalas baik.
Ada rotan , ada duri. 
Dalam kesenangan tentu ada kesusahannya.
Ada rupa, ada harga. 
Harga barang menurut rupanya (= keadaannya).
Ada sama dimakan, tak ada sama ditahan. 
Baik derita dan bahagia dirasakan bersama-sama.
Ada sampan hendak berenang. 
Sengaja bersusah payah.
Ada seperti tampaknya apung-apung. 
Barang yang dihajati telah ada tetapi belum tentu dapat diambil atau dipakai.
Ada sirih hendak makan sepah. 
Ada yang baik, hendakkan yang buruk.
Ada tangga hendak memanjat tiang. 
Berbuat sesuatu dengan tidak menurut aturan.
Ada uang abang disayang, tak ada uang abang ditendang. 
Melakukan sesuatu yang baik jika ada maunya saja.
Ada uang abang disayang, tak ada uang abang payah. 
Seorang yang mampu mencukupi kebutuhan keluarganya akan dipuji banyak orang, tetapi jika ia tidak mampu akan banyak mendapat caci maki.
Ada ubi ada batas, ada masa boleh balas. 
Perbuatan jahat itu sewaktu-waktu akan mendapat balasan juga.
Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. 
Berbuat baik dibalas baik, berbuat jahat dibalas jahat.
Ada udang di balik batu 
Ada maksud yang teersembunyi.


Sumber: http://www.peribahasa.net/peribahasa.php?abjad=A&page=1#sthash.1iP3lFDo.dpuf

Saturday, 23 January 2016

Kelam

Kelam
Kemanakah hati bersinggah
Pekat, pekat dan kosong kuterdiam
Menyelusuri berangan mimpi
Masih penuh tanya kunanti
Angin menyapa seperti biasa
Suara burung masih jelas terdera
Hampa masih menghampiri jiwa
Hanya bayangan mengajaku bersama
Kuteriakan retakku pada ombak
Kuteriakan pahitku pada langit
Kuteriakan kelamku pada angin
Dan berharap angin membawanya pada seseorang
Lemparkan saja batu itu
Biar pecah semua itu
Tak peduli ku dengan ini
Sendiri sepi slalu menghampiri
           
                                                                                 by: Indra

ANTARA TIGA KOTA

ANTARA TIGA KOTA

di yogya aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur
seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?
Jakrta menghardik nasibku
melecut menghantam pundakku
tiada ruang bagi diamku
matahari memelototiku
bising suaranya mencampakkanku
jatuh bergelut debu
kemanakah harus juhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga
surabaya seperti ditengahnya
tak tidur seperti kerbau tua
tak juga membelalakkan mata
tetapi di sana ada kasihku
yang hilang kembangnya
jika aku mendekatinya
kemanakah haru kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?

  
                                                               
                                                                                          Dari: Emha Ainun Najib

Friday, 22 January 2016

SAJADAH PANJANG

SAJADAH PANJANG

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini

Menanti Permata

Menanti Permata 

Angin menyapa seperti biasa
Seakan berbisik tentang rasa
Daun layu jatuh diantara lentera
Permata pun melintas didepan mata

Hanya ingin duduk menanti
Hanya ingin melihatmu tersenyum
Hanya ingin terdiam menanti
Hanya ingin melihatmu melangkah